Assalamu'alaikum, Selamat Datang di Blogku

Kamis, 31 Januari 2013

PENDEKATAN BEHAVIORISME


TEORI BELAJAR
Teori belajar dikelompokkan menjadi empat, yaitu: teori Behaviorisme, teori Kognitivisme, teori Konstruktivisme, dan teori Humanisme.[1]
a.    Teori Behaviorisme
1.    Hakikat Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan di dalam psikologi pendidikan yang didasari keyakinan bahwa anak dapat dibentuk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang membentuknya. Dngan kata lain, semua prilaku diperoleh individu setelah berinteraksi dengan lingkungan yang telah dikondisikan.


2.    Tokoh teori belajar Behaviorisme
Teori Behaviorisme diklesifikasikan  ke dalam dua bagian, yaitu: Classical Conditioning (pengkondisian lingkungan secara klasik) dan Operant Conditioning (pembiasaan prilaku respon).Ada beberapa tokoh teori belajar behaviorisme. Tokoh-tokoh aliran behavioristik Classical Conditioning  antaranya adalah Ivan Pavlov, Thorndike, dan Watson. Aliran Teori belajar Operant Conditioning adalah Burhus Frederic Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.

1.    Teori Belajar Menurut Ivan Pavlov(1849-1936)
Ivan Pavlov  pada percobaannya pada seekor anjing. Dengan memasang stimulus yang menggunakan daging dan bel. Responya air liur anjing. Yang akan diamati adalah prilaku yang terbentuk  dari pemberian respon yang dikondisikan (hubungan stimulus respon), yaitu  bel berbunyi air liur keluar walaupun daging tidak diperlihatkan lagi.
Hasil penemuan Pavlov melalui penelitiannya yaitu: Classical conditioning merupakan temuan penting di dalam sejarah perkembangan psikologi karena temuan tersebut meletakkan dasar-dasar behaviorisme psycology. Prinsip-prinsip yang terdapat dalam classical conditioning masih tetap diterapkan dalam berbagai modifikasi perilaku di berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, terapi medis, terapi terhadap phobia, anxiety, panic yang berlebihan.
Penerapan classical conditioning merupakan metode terapi dalam merubah perilaku yang bersifat maladaptive dan merubahnya menjadi perilaku yang adaptif. Misalnya rasa takut terhadap pelajaran matematika diubah menjadi rasa senang dengan pelajaran matematika.

2.    Teori Belajar Menurut Watson (1878-1958)
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Watson mengembangkan teori behaviorisme berdasarkan hasil penelitian Pavlov kepada manusia, melalui proeses pembentukan reflex-reflex yang terbentuk dari hubungan stimulus-respon yang telah dikondisikan. Oleh sebab itu, ia mendefinisikan manusia tidak ubahnya seperti mesin yang dapat diatur kegiatannya secara mekanistik.

3.    Teori Belajar Menurut Thorndike (1913-1931)
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek (Law of effect), (2) hukum latihan (Law of exercise), dan (3) hukum kesiapan (Law of Readiness). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.

4.    Teori Belajar Menurut  Burrhus Frederic Skinner(1904-1990)
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.

3.    Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

4.    Kekuatan dan Kelemahan Teori Behaviorisme
Teori-teori belajar yang dikemukakan oleh Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skinner  secara prinsipal bersifat behavioristic dalam arti lebiih menekankan  timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur. teori-teori tersbut terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Teori yang sudah terlanjur diyakini banyak orang ini tentu saja mengandung banyak kelemahan. Kelemahan  teori-teori tersebut adalah[2]:
a.    Proses belajar itu dipandang dapat diamati langsung padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar  kecuali sebagian gejalanya.
b.    Proses belajar itu dipandang bersifat otomatis –mekanis,sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiria) dan self control (pengendalian diria) yang bersifat kogniti, dan karenanya ia bisa menolak, merespon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
c.    Proses belajar manusia dianalogikan dengan prilaku hewan  itu sangat sulit diterima mengingat amat mencoloknya perbedaan antara karakter fisik dan psikis hewan.

Sedangkan menurut Jamaris, kekuatan dan kelemahan  Behaviorisme, yaitu:
a.    Behaviorisme melakukan penelitiannya terhadap prrilaku berdasarkan yang tampak atau observable behaviors. Oleh sebab itu mempermudah proses penelitian karena prilaku dapat dikuantifikasi.
b.    Teknik terapi prilaku yang efektif secara intensif menggunakan intervensi berbasis behaviorisme. Pendekatan ini sangat bermanfaat dalam merubah perilaku yang mal adaptif menjadi perilaku adaptif dan dapat diterapkan pada anak dan orang dewasa.
c.    Behaviorisme sangat dikenal dengan  pandanganya bahwa pembelajar adalah individu yang pasif yang bertugas hanya memberi respon kepada stimulus yang deberikan. Pembentukan prilaku sangat ditentukan oleh penerapan reinforcement atau punishment. Oleh sebab itu belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku.
d.    Behaviorisme menggeneralisir hasil eksperimen terhadap hewan kepada manusia. Oleh sebab itu generalisasi tersebut kurang berhasil apabila diterapkan kepada orang dewasa.

Buku sumber: Martini Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2010), h. 153-167

Muhibbin Syah, h.92-100



[1] Martini Jamaris, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pendidikan,(Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2010), h. 151-234
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar